Kamis, 10 April 2014

Membandingkan Pesawat 'Garuda' RI-1 dan 'Air Force One' AS



Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Indonesia memiliki pesawat khusus kepresidenan. Pesawat mahal tersebut baru saja tiba di bandara Halim Perdanakusumah pagi ini. Bila dibandingkan dengan pesawat yang biasa digunakan presiden Amerika Serikat (AS) Air Force One, bagaimana perbedaannya?

Ada banyak aspek yang bisa dibandingkan dari kedua pesawat tersebut. Mulai dari sejarah, penamaan, spesifikasi teknis, hingga keamanan. Semua data sudah dipublikasikan terbuka oleh pihak Gedung Putih dan Boeing selaku produsen pesawat.

Berikut beberapa perbedaannya:


Sejarah

Sejarah penggunaan pesawat kepresidenan antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) berbeda. Menurut Mensesneg Sudi Silalahi, sejak merdeka 69 tahun lalu, Indonesia belum pernah memiliki pesawat kepresidenan sendiri. Selama ini, presiden-wapres Indonesia menggunakan pesawat sewaan dari maskapai Garuda Indonesia atau milik TNI AU untuk bepergian antar provinsi atau ke luar negeri.

Menurut Garuda Indonesia, Presiden SBY sering menyewa pesawat jenis 737-800 NG untuk penerbangan domestik. Sedangkan untuk jarak jauh atau internasional menggunakan pesawat pabrikan Airbus jenis A330.

Sementara, presiden Amerika Serikat sudah mulai menggunakan pesawat khusus setidaknya dari tahun 1943. Kala itu, Presiden Franklin D. Roosevelt terbang menggunakan pesawat Boeing model 314 Clipper. Setelahnya, pesawat kepresidenan pun semakin canggih. 

Tahun 1963, Boeing memperkenalkan pesawat berjenis 707-320B special air mission (SAM) 26000 dan 27000. Pesawat jet ini lebih modern. Hampir tujuh masa kepemimpinan presiden menggunakan pesawat tersebut.

Untuk saat ini, pesawat yang kerap digunakan presiden AS adalah berjenis 747-200B SAM 28000 dan 29000.


Tentang Penamaan Pesawat

Banyak yang salah memahami arti Air Force One. Menurut situs resmi Gedung Putih, sebutan Air Force One dipakai untuk semua pesawat jet yang digunakan oleh presiden AS, apa pun jenisnya. Nama tersebut digunakan sebagai kode untuk alat angkut udara presiden.

Meski begitu, pihak Gedung Putih mengakui ada pesawat reguler 'Air Force One' yang kerap digunakan presiden. Pesawat itu yang berjenis Boeing 747-200B dan memiliki dua kode ekor yakni 28000 and 29000.

Pesawat Air Force One sudah beberapa kali mampir ke Indonesia. Terakhir, saat Presiden Barack Obama mengikuti acara East Asia Summit tahun 2011 di Bali.

Untuk pesawat kepresidenan RI baru belum diketahui apakah ada penamaan dengan kode tertentu. Selama ini, pesawat itu lebih sering dengan pesawat kepresidenan RI atau pesawat RI-1. Di undangan yang dikirim ke wartawan, Mensesneg Sudi Silalahi menyebut pesawatnya dengan nama 'Pesawat Kepresidenan BBJ-2'.


Spesifikasi Pesawat RI-1

Mesin: 2 Mesin CFM56-7
Sejarah pesawat: pembuatan dilakukan sejak tahun 2013 (Date Manufacture)

Kemampuan Terbang:
Ketinggian maksimum: 41.000 Feet.
Endurance (Daya Jelajah): 10 Jam.
Kecepatan jelajah maksimum: 0,785 Mach.
Kecepatan maksimum: 0,85 Mach
Jangkauan jelajah maksimum: 4.620 Nm / 8.556 Km

Ukuran pesawat
Rentang sayap : 35,79 Meter
Panjang badan : 38 Meter
Tinggi pesawat : 12,50 Meter

Ukuran lain-lain
Data muat: 4 VVIP Class Meeting Room, 2 VVIP Class (State Room), 12 Executive Area dan 44 Staff Area.


Spesifikasi Air Force One

Jumlah Kru: 26 penumpang/kru dengan kapasitas maksimal hingga 102 orang. Panjang pesawat dari hidung sampai ekor mencapai 70,4 meter. Tinggi pesawat 19,4 meter. Luas ruang kabin dalam pesawat 371,6 meter persegi. Berat pesawat 400 ton. Mesin: General Electric CF6-80C2B1.

Dari situs Gedung Putih disebutkan, pesawat ini mampu mengisi bahan bakar di udara. Karena itu daya jelajahnya tak terbatas. Bisa membawa presiden AS ke mana pun dia hendak pergi.

Ada sejumlah ruangan di dalamnya, mulai dari kantor presiden, toilet dan ruang konferensi. Ada juga ruang medis khusus yang bisa difungsikan sebagai kamar operasi, tentu saja dengan dokter di dalamnya. Sebuah dapur khusus juga tersedia untuk memberi makan 100 orang sekaligus.

Total ruangan di pesawat itu luasnya mencapai 4.000 kaki persegi. Di dek tingkat pertama, dijadikan ruang kargo dan bagasi, dek tingkat dua didominasi ruang kerja presiden dan staf. Sementara dek tingkat ketiga dipakai untuk kokpit, lounge, dan ruang komunikasi. 


Keamanan

TNI AU menyebut pesawat Kepresidenan RI memiliki spesifikasi keamanan yang canggih. Boeing Business Jet-2 yang didominasi warna biru itu mampu mendeteksi rudal atau peluru kendali yang mendekat.

"Dalam aspek security, jika ada ancaman peluru kendali pesawat ini memiliki sensor sehingga memberikan warning untuk langkah selanjutnya," kata Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI IB Putu Dunia.

Letkol (Pnb) Firman, salah satu perwakilan TNI AU yang ikut dalam penerbangan dari AS tersebut mengatakan, pesawat Kepresidenan RI bisa mengetahui juga keberadaan pesawat lain. Radar yang dipasang di dalamnya sangat canggih. Sayangnya, burung besi itu tak punya fungsi perlawanan.

Bagaimana dengan Air Force One? Dalam situs resmi Gedung Putih disebutkan, sistem elektronik pesawat tersebut disebut terlindungi dari getaran elektromagnetik. Pesawat juga memiliki sistem komunikasi yang terlindungi dari penyadapan. Sedikitnya ada 87 sambungan telepon berbeda di dalam, dan 28 di antaranya aman.

Air Force One juga memiliki peralatan antirudal. Pesawat ini memiliki alat khusus yang bisa membutakan rudal pencari infra merah. Sejumlah alat yang terpasang di dalamnya diklaim bisa mengacak sinyal rudal. Masih banyak spesifikasi keamanan lain yang dirahasiakan.


Harga Unit

Dari situs Wikipedia, diketahui harga satu pesawat Air Force One Boing 747-200B VC-25 senilai US$ 325 juta. Ada dua pesawat yang dibangun dengan spesifikasi sama, yakni nomor ekor SAM 28000 dan 29000.

Dua pesawat tersebut kini dikelola oleh pihak militer AS. Setiap perjalanannya adalah bagian dari misi militer.

Sedangkan harga pesawat kepresidenan RI-1 lebih murah,  Rp 840 miliar. Menurut Mensesneg Sudi Silalahi, nilai itu terdiri dari biaya pesawat dan pembuatan interior. Pesawat sudah dibangun sejak tahun 2013 lalu.


Sumber: Detik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.